THM
#53

Aku mencintainya dalam diam. Dengan sepi. Mengasihinya seperti angin. Membelai malu-malu dengan dingin.

crafting songs for someone to sing

image

is challenging.

But fun. I can’t say that it is all easy compared to craft ones for myself. I did a lot of thought to finally figured out which note sounded best for a certain someone. And it wasn’t the hardest part. To put in other’s shoes was. Or without being so dramatic, to crafted one for a certain band was. Like these songs i’ve been crafting lately.

Each song is intended for MOCCA. They made me assumed myself as a girl and asked myself what-does-it-feel-like questions, like, a lot. They also made me learn what chords do they frequently use, what kind of sound, and some other stuff that i don’t really know how to put into words (yes, i don’t quite know terms in music).

Yet it was a fun experience to enjoy, pretty much because, i could let myself being somewhat girly without the need to feel embarrassed. Hahaha.

The One was the first song i crafted with the help of a cook friend named Teguh when he just about to sleep (sorry). This is the most awkward song for me to sing. Just listen and i guarantee you’ll understand why.

Dream was crafted by me and Lio. It intended to be a children song, at first. Until i can’t help but made it turn into another MOCCA-ish song. Fyi, one day me and Lio couldn’t make it over the Bridge, and the very next day, we made it! only in hours and after all the disturbing noises.  A lot of respect and gratitude to all the folks involved to finish this song up. Izhar, Ryan, Lio, and Teguh. And Dey and Anna. And Bona (miaw).

To be honest, we kinda looking for a girl to sing the songs. Let’s face it, i’ll ruin it if i sing it. Gross. Just tell me if you’re interested.

#52

Tak peduli. Berapa kali pun kau mati. Hidup akan bangkitkan kau lagi dan lagi. Sejatuh apapun kita nanti. Ingatlah untuk terus berlari.

Mungkin ia memang tak pernah biasa. Sakit bila terluka. Sesak saat menggila. Saat kau pikir kau tahu segalanya. Gajah di pelupuk mata pun kau lupa.

Siapa yang kau ingin coba tipu. Membius rasa dengan logika. Menangkis firasat dengan tanda tanya.

Kemana kau akan kembali nanti. Bila ia telah mati. Dan kau pun enggan untuk mencari lagi.

Tak akan sama. Tak akan pernah lagi sama. Bila kau pernah mati. Hidup akan lebih berarti.

#51

Yang remang-remang. Redup terang berseliweran. Terangsang malam. Yang menggigil walau tak ingin. Sejuk bukan main-main. Malu-malu kucing. Yang diam-diam. Mereka-reka kenangan. Berderak. Berdebar. Yang terserak di sudut-sudut liar. Kantuk entah kemana. Membuat sakit kepala.

#50

Puncak tak akan kemana seberapa lelah pun kau daki. Ia hanya fana saat kau berhenti. Abadi dalam seluk mimpi-mimpi.

#49

Bila ia memang harus jatuh. Beriak terberai jauh kesudut-sudut bisu. Ricuh dari hentak tak akan lagi diam saja di pintu. Melantang pula walau percuma. Mungkin hanya untuk mengisi kosongnya udara. Bisik-bisik. Mendesah. Tak dapat lagi terusik walau semakin resah. Bila ia hanya bisa jatuh. Iba yang murka bersorak gembira. Berkubang. Membusuk. Terurai menjadi kata-kata. Sarkasme agar nelangsa rupanya.

#48 : Limbung

Memikirkanmu membuat diriku limbung jatuh, terlimbung jatuh. Memimpikanmu di dalam tidur ku senyum rindu, tersenyum rindu. Senang dan sepi. Senang namun sepi. Bersamamu, kuhabiskan waktu. Bercanda, tertawa, menangis pun bersama. Berdua, oh berdua. Kini ku tak lagi berlari membenci diriku yang senang dan sepi. Senang namun sepi.

—-

Salah satu puisi yang akhirnya saya konversi menjadi sebuah lagu. Maunya sih dibuat ala Payung Teduh tapi ya apa boleh buat, sementara sampai disini saja skill saya. Kalau ada kesempatan atau ada yang ingin membantu, saya ingin menambahkan suara string seperti viola atau cello, dan piano, dan mungkin flute di beberapa bagian, atau harmonika, entahlah.. saya masih bingung untuk alat musik tiupnya. Feel free to give any critiques. Enjoy!
 

#47

If i got the second chance to fall in love, i rather not take it.

But if the one is you, i will make it.

Even if i have to travel the world, i will do it.

To fall for you is a culprit.

Who jail my heart and make me stupid.

#46 : Fable Heart
if only, i could feel the rhymes beyond the lines
a story might be elusively analogous
if only, i could sense the strokes over my mind
each words could be allusively obnoxious
 
Echoes ring true over time
If only, only i could mime
Reverb the sound of every chymes
I wont count sheeps before bedtime
Never tired of your whine
Swearing lies to everyone
 
A fable heart doesnt lie
Tall tales might be a try
A strong faith could still die
Yet ignorance couldn’t be worthwhile
When you’re about to fly
 
Oh, a fable heart
Thou shall right
 
Oh, a fable heart
Rub up, rub up
 
An idiom could mislead
Parables might be unfit
Buckets would be kicked
Beans might be spilled
Still a fable heart couldn’t cheat
#45 : Sunset Court

As the dust and tears are blown away through the air

We smell a sip of warbling voices beneath the troubling mind

Of the ones who are scavenging the truth through the strollers

Asking questions as vague as the wind chyme

Can we live the love more than as the word we say?

Do we need a darker shades because the future is too bright?

Or do we need more light to guide us through life’s fancy pray?

Why do preachers preach anything but the blinding fact?

God lives here, but satan too

The right portion makes everything good

Whether its darkeness or light

It is nobody business to judge

Though night come with the dark

There will be morning groan joining the fight

I wonder when the sun is set

Sky is the court for the judgment (leave alone me)

Of injustices that the world’s create (dare supremacy)

#44
Entah mereka yang menolak memahami
atau segala sesuatu memang menolak untuk dipahami
Entah mereka yang buta
atau segala sesuatu memang selalu bersembunyi
Entah mereka yang tuli
atau segala sesuatu memang selamanya sunyi
Entah mereka yang mengada-ada
atau setiap yang ada adalah sejatinya tiada
Entah mereka yang mereka-reka
atau setiap sesuatu selalu berpura-pura
Mereka yang miskin melampaui batas definisi di segala dimensi
Merugi saat terpuruk apalagi beruntung
Entah sebuah kepatuhan mutlak yang bodoh
atau kemalasan akut yang membunuh
Terkutuk tanpa perlu dikutuk
Merugilah mereka sang manusia
Yang mati adalah kselematan baginya
—-
as featured on this.
#43
Keselamatan musuhmu adalah keselamatan bagimu.
Celakanya musuhmu akan lebih celaka dirimu.
Perdamaian adalah kebahagaiaan semu yang memandulkan.
Namun peperangan adalah hal yang terlalu memabukkan.
Menjadi yang terlarut dalam pertentangan atas kebajikan-kebajikannya sendiri adalah yang memegang busurnya erat-erat dan melesatkan anak panahnya sekencang-kencangnya dan dengan akurat membidik dirinya sendiri.
Menjadi sedemikian obsesif hingga tak lagi peduli pada kebajikan lain selain mereka yang ada pada dirinya
Menjadi diam dalam perangnya sendiri
Menang dalam keheningan
Lalu berdamai dengan dirinya
Yang dengan kebajikannya mentertawakan
Mereka yang beradu mulut
Dalam perdamaian yang dibuat-buat
—-
as featured on this.
#42
Tuhan adalah Tuhan.
Yang bukan Ia, Engkau, Kami, dan Mereka.
Yang bukan siapa, apa, dimana, bagaimana, kata atau tanda tanya.
Yang tidak dituhankan dan menuhankan.
Terbebas, tak terjamah, dari apapun yang terjauh yang bisa dicapai manusia dengan cara apapun.
Namun terdekat, terikat, lebih dekat dari manusia dengan keutuhan dirinya sendiri.
Namun bukan satu, bukan pula dua, tiga, empat, dan seterusnya.
Juga bukan tak terhingga, bukan pula tiada, tanpa syarat.
Dan bukan sesuatu, sebuah, atau seorang.
Tuhan adalah Tuhan, tanpa pura-pura, tanpa umpama.
Walau mereka yang bergantung pada definisi,
terjebak dalam kemanusiannya,
hilang dan lenyap dalam belantara,
habis dilahap dirinya sendiri,
Tuhan adalah Tuhan.
—-
as featured on this.
#41

Aku harap dingin tak salah paham saat ia kubiarkan merasuki tubuhku. Aku hanya ingin mendengar kisahnya yang bersembunyi di dalam malam atau di balik hujan. Aku ingin tahu apa yang ia bisikkan pada bulan. Aku ingn tahu apakah ia juga menggenang bersama hujan. Atau ia memang lebih suka menjadi embun? Bersemayam di balik daun-daun. Aku ingin ia mengajariku agar hangat tak hanya senyap bersama perapian. Aku hanya butuh cukup dingin untuk menjadi alasan. Untuk waktu mendekapku, mengobati sendi-sendiku yang ngilu, yang semakin merana karena rindu.

#40

Kamu adalah predator waktu. Hadir dengan anomali. Mengurai kusut. Menyusut. Berakselerasi diantara detak-detak. Mempercepat siklus. Membuat rindu menjadi tidak masuk akal.

1 of 32 next